Negara Inggris Diisolasi Uni Eropa Menyusul Ditemukan Varian Baru Virus Corona

Varian baru virus corona telah di temukan di bagian wilayah selatan Inggris yang lebih menular, di tengah rencana Uni Eropa melakukan vaksinasi masal di akhir tahun ini. Kefektifan Vaksin Covid sedang di kaji oleh otoritas kesehatan terkait.

Negara Inggris Diisolasi Uni Eropa Menyusul Ditemukan Varian Baru Virus Corona
Orang mengantri di stasiun St Pancras di London, untuk naik kereta terakhir ke Paris, Jutaan orang di Inggris telah mengetahui bahwa mereka harus membatalkan acara kumpul-kumpul Natal dan belanja di musim liburan. (20/12/2020). Foto : Stefan Rousseau
Negara Inggris Diisolasi Uni Eropa Menyusul Ditemukan Varian Baru Virus Corona
betabutu

London - Inggris, Kini semakin banyak negara di Uni Eropa yang melarang perjalanan dari Inggris, Minggu 20 Desember 2020, dan negara lainnya sedang mempertimbangkan tindakan serupa, hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghentikan virus corona jenis baru yang melanda Inggris selatan agar tidak menyebar ke benua eropa. Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Belgia, Austria, Irlandia dan Bulgaria semuanya mengumumkan pembatasan perjalanan dari dan ke Inggris, beberapa jam setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan bahwa kegiatan belanja dan kerumunan kegiatan Natal di Inggris selatan harus dibatalkan karena penyebaran adanya infeksi penyebaran Covid-19 varian baru yang cepat dan sulit terdeteksi.

Para ilmuwan Inggris pada Sabtu 19 Desember 2020 berusaha mencari tahu apakah varian baru virus corona ini, yang telah menyebar cepat di Inggris bulan ini, diperkirakan kebal dari vaksin-vaksin yang baru dikembangkan. Atau hasil mutasi akibat proses penyuntikan vaksin yang tidak teruji dengan baik, kalau hal ini penyebabnya maka terjadi kiamat di dunia medis. Varian baru itu pertama kali diidentifikasi pada 13 Desember di Kent, Inggris selatan. Dan analisis awal oleh pemerintah mengisyaratkan bahwa virus corona yang bermutasi itu "berkembang lebih cepat dibandingkan varian yang ada sekarang ini."

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengadakan pertemuan menteri mendadak pada Jumat 18 Desember 2020, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai ancaman varian hasil mutasi itu, yang diberi nama VUI-202012/01. Johnson segera menempatkan wilayah tersebut di bawah tingkat tier 4 baru yang ketat, atau mirip lock down secara nasional, di tengah meningkatnya aktifitas Natal bagi jutaan orang.

Pemerintah prancis melarang semua perjalanan dari Inggris selama 48 jam mulai Minggu tengah malam, dan para pejabat  yang berwenang mengatakan itu akan mengulur waktu untuk menemukan "kebijakan publik" tentang bagaimana menghadapi ancaman tersebut. Dimana nanti mereka akan menentukkan bahwa "arus orang atau transportasi ke Inggris Raya tidak berbahaya".

Pemerintah Jerman menyatakan semua penerbangan yang datang dari Inggris, kecuali penerbangan kargo, tidak lagi diizinkan mendarat mulai Minggu (20/12/2020) tengah malam. Belum ditentukan berapa lama larangan terbang tersebut akan berlangsung. Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menyatakan dia akan mengeluarkan larangan terbang selama 24 jam mulai tengah malam "karena ini adalah tindakan pencegahan". Belgia juga menghentikan semua jalur keretanya ke Inggris, termasuk Eurostar. "Ada banyak pertanyaan besar tentang mutasi virus baru ini," katanya, seraya menambahkan dia berharap ada penjelasan lebih lanjut pada hari Selasa (23/12/2020) nanti.

Sementara Itu Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan pada hari Sabtu (19/12/2020) bahwa virus corona varian baru menular lebih cepat 70% daripada penularan sebelumnya dan tampaknya akan mendorong penyebaran kluster infeksi baru dengan cepat di London dan Inggris selatan dalam beberapa pekan terakhir. Namun beliau menekankan “Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus varian baru ini lebih mematikan atau menyebabkan penyakit yang lebih parah,” atau bahwa hasil vaksin akan kurang efektif untuk melawannya.

Pada hari Minggu, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock memperingatkan bahwa ketika dia mengatakan "varian baru ini di luar kendali." Pemerintah Inggris telah mencatat 35.928 kasus baru yang terkonfirmasi lebih lanjut, sekitar dua kali lipat jumlah dari kasus minggu lalu. Jerman, yang kini memegang jabatan presiden bergilir Uni Eropa, mengadakan pertemuan darurat khusus pada hari Senin (21/12/2020) untuk informasi dan koordinasi diantara 27 negara anggota Uni Eropa terhadap tanggap darurat virus corona jenis baru.

Pemerintah Belanda melarang penerbangan dari Inggris setidaknya selama sisa tahun ini. Negara Irlandia mengeluarkan larangan penerbangan selama 48 jam. Pemerintah Italia mengatakan akan memblokir semua penerbangan dari Inggris hingga 6 Januari 2021, dan perintah yang ditandatangani pada hari Minggu ini melarang siapapun masuk ke Italia jika yang bersangkutan telah berada di Inggris dalam 14 hari terakhir. Republik Ceko memberlakukan tindakan karantina yang lebih ketat pada orang-orang yang baru datang dari Inggris. Operator kereta berkecepatan tinggi Eurostar membatalkan perjalanan keretanya antara London, Brussel, dan Amsterdam mulai Senin, tetapi tetap mengoperasikan rute keretanya dari London-ke-Paris.

Di luar Eropa, Negara Israel juga mengatakan akan melarang penerbangan dari Inggris, Denmark, dan Afrika Selatan karena di negara-negara itu ditemukan mutasi virus Covid jenis baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) men-tweet Sabtu malam bahwa "Kami berkomunikasi secara intens dengan pejabat Inggris Raya tentang varian virus # COVID19 yang baru. Mereka akan terus berbagi info & hasil analisis & studi yang sedang berlangsung. Kami akan terus memperbarui Negara Anggota & informasi publik saat kami mempelajari lebih lanjut tentang karakteristik varian virus ini & implikasinya."

Gejala baru diidentifikasi di tenggara Inggris pada September dan telah menyebar di daerah itu sejak saat itu, kata seorang pejabat WHO kepada BBC, Minggu (20/12/2020). “Apa yang kami pahami adalah bahwa virus tersebut telah mengalami peningkatan penularan, dalam hal ini kemampuannya untuk cepat menyebar,” kata Maria Van Kerkhove, kepala bagian teknis WHO untuk COVID-19. Penelitian sedang dilakukan untuk lebih memahami seberapa cepat penyebarannya dan apakah "itu terkait dengan varian itu sendiri, atau kombinasi faktor eksternal terkait dengan perilaku manusia," tambahnya.

Dia mengatakan juga gejala yang sama juga telah diidentifikasi di Denmark, Belanda dan Australia, di mana ada satu kasus namun tidak menyebar lebih luas. “Semakin lama virus ini menyebar, semakin banyak peluang yang dimilikinya untuk bermutasi,” katanya. “Jadi kami benar-benar perlu melakukan semua yang kami bisa sekarang untuk mencegah penyebarannya.” Virus bermutasi secara teratur, dan para ilmuwan telah menemukan ribuan mutasi berbeda di antara sampel virus yang menyebabkan COVID-19. Banyak dari perubahan ini tidak berpengaruh pada seberapa mudah virus menyebar atau seberapa parah gejalanya.

Otoritas kesehatan Inggris mengatakan bahwa meskipun varian virus Corona yang baru tersebut telah menyebar sejak September, baru pada minggu lalu para pejabat merasa mereka memiliki cukup bukti untuk menyatakan bahwa ia memiliki penularan yang lebih tinggi daripada virus Corona lain yang telah menyebar sebelumnya. Patrick Vallance, kepala penasihat ilmiah pemerintah Inggris, mengatakan para pejabat prihatin tentang varian baru tersebut karena mengandung 23 perubahan yang berbeda, "varian dalam jumlah yang sangat besar" yang memengaruhi cara virus ini mengikat dan memasuki sel di dalam tubuh.

Pejabat tidak yakin apakah itu berasal dari Negara Inggris, Vallance menambahkan. Tetapi pada Desember, dia mengatakan hal itu yang menyebabkan lebih dari 60% kasu infeksi di London. Calon presiden terpilih AS Joe Biden untuk ahli bedah umum AS menyatakan pada Minggu (20/12/2020) bahwa munculnya virus jenis baru tidak mengubah protokol kesehatan masyarakat tentang tindakan pencegahan untuk mengurangi penyebaran virus, seperti mengenakan masker, menjaga jarak sosial, dan mencuci tangan.

“Meskipun tampaknya lebih mudah ditularkan, kami belum memiliki bukti bahwa ini adalah virus yang lebih mematikan bagi individu yang mendapatkannya,” kata Vivek Murthy di "Meet the Press" NBC. “Tidak ada alasan untuk percaya bahwa vaksin yang telah dikembangkan tidak akan efektif melawan virus ini juga.”

Eropa telah dihantam selama musim gugur ini dengan melonjaknya infeksi baru dan kematian karena peningkatan penyebaran virus, dan banyak negara eropa telah menerapkan kembali serangkaian pembatasan untuk mengendalikan pandemi ini. Pemerintah Inggris telah mengumumkan lebih dari 67.000 kematian akibat pandemi ini, jumlah korban tertinggi kedua yang dikonfirmasi di Eropa setelah Italia. Eropa secara keseluruhan telah mencatat hampir 499.000 kematian akibat virus ini, menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins yang menurut para ahli jumlahnya masih kurang, karena pengujian terbatas dan banyak kasus yang terlewati.

Badan Obat-obatan Eropa (EMA), sementara itu, bertemu hari Senin (21/12/2020) untuk menyetujui vaksin COVID-19 pertama untuk 27 negara Uni Eropa, mendekatkan vaksinasi bagi jutaan warga UE. Vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi Jerman BioNTech dan perusahaan farmasi Amerika Pfizer dan sudah digunakan di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan negara lain.

EMA mengumumkan kajiannya terhadap vaksin Pfizer-BioNTech seminggu setelah mendapat tekanan luar biasa dari pemerintah UE, terutama Negara Jerman, yang mengatakan bahwa setelah persetujuan EMA, mereka dapat mulai memvaksinasi warganya paling cepat Minggu depan. Dalam pidatonya Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kepada semua warga masyarakatnya pada hari Sabtu (19/12/2020), bahwa pemerintahnya telah memerintahkan semua toko yang tidak penting, penata rambut dan pusat kebugaran di London dan sebagian besar Inggris selatan untuk tutup dan mengatakan kepada warga Inggris untuk mengatur ulang rencana liburan mereka. Tidak ada acara kumpul-kumpul keluarga yang diizinkan dalam wilayah tersebut, dan hanya perjalanan penting yang akan diizinkan. Di seluruh Inggris, orang akan diizinkan untuk bertemu dalam kunjungan Natal hanya untuk satu hari, bukan lima hari dari yang direncanakan.

Setelah dia berbicara, video online muncul yang menunjukkan kerumunan orang di stasiun kereta London, tampaknya mereka bergegas ke tempat-tempat di Inggris Raya dengan pembatasan aktifitas sosial yang longgar. Menteri Kesehatan Matt Hancock menyebut kelakuan tersebut sebagai "sama sekali tidak bertanggung jawab". Sementara itu Hancock telah menginstruksikan agar para pejabat bertindak "sangat cepat dan tegas," para kritikus mengatakan pemerintah Konservatif Inggris seharusnya sudah bergerak melawan peningkatan penyebaran infeksi jauh lebih awal. "Alaram tanda bahaya telah berbunyi selama berminggu-minggu, tetapi perdana menteri memilih untuk mengabaikannya," kata Keir Starmer, pemimpin oposisi Partai Buruh. "Ini adalah tindakan lalainya seorang perdana menteri yang, sekali lagi, diam di belakang meja ovalnya." Tindakan cepat dan tepat diperlukan oleh semua pengambil kebijakan untuk mengatasi pandemi ini. (HUD)