Indahnya Desa Waturaka Salah Satu Destinasi Wisata Alam Terbaik Di NTT

Sebelum anda sampai ke danau tiga warna di gunung kelimutu, anda perlu singgah sebentar di Desa Wataruka jika ingin menikmati spot keindahan alam areal persawahan yang di bangun oleh masyarakat setempat.

Indahnya Desa Waturaka Salah Satu Destinasi Wisata Alam Terbaik Di NTT
Areal persawahan yang dijadikan spot wisata alam oleh masyarakat Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Foto : Istimewa
Indahnya Desa Waturaka Salah Satu Destinasi Wisata Alam Terbaik Di NTT
betabutu

Ende, Kalau berbicara sawah pasti yang ada di benak para pembaca adalah lokasi untuk menanam padi sebagai sumber makanan utama manusia, namun jika anda mengunjungi Desa Waturaka, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pembaca akan melihat potensi lokasi persawahan juga bisa menjadi objek wisata alam. Saat ini tengah di bangun fasilitas untuk spot foto yang instagramable dan unik. Spot foto berupa Motor Harley tersebut dibangun tepat disebelah kanan jalan menuju Danau Tiga Warna Kelimutu, yang membelah area persawahan yang selama ini juga dikenal sebagai area persawahan penghasil salah satu beras terbaik dari Kecamatan Kelimutu.

Pembangunan spot wisata dipinggir jalan dan area persawahan ini dilakukan oleh seorang pemuda bernama Gustinus A. Wora, yang sering disapa bang Gush. Saat ini pengerjaan spot foto yang berupa motor harley tersebut sudah rampung dan, siap untuk berselfie ria, Gush menceritakan bahwa ide membuat spot foto dengan replika Motor Harley tersebut bermula saat ia tengah istrahat kerja sehabis mengelolah lahan kebun miliknya, dan pada saat itu saya sementara duduk istirahat tiba tiba datang beriringan Rombongan Motor Gede (Moge) melintasi jalan ini menuju kelimutu.

Replika Harley

Replika motor harley yang di jadikan spot foto Instagramable dengan latar belakang areal persawahan di Desa Wataruka. Foto : Istimewa

Dalam hati saya berbicara kapan saya bisa mengendarai motor besar seperti mereka, Seiring berjalan waktu karena tidak mungkin menunggang Moge tersebut akhirnya saya beranikan diri membuat ide untuk membuat motor yang saya lihat tersebut dengan memanfaatkan bahan - bahan yang ada disekitar sini, dan mulailah saya merangkai perlahan lahan, karena saya sibuk harus membagi waktu ke kebun, pulang dari kerja kebun saya mulai merangkai kembali sehingga hampir dua minggu baru jadi seperti yang dilihat ini, kenang Gush sambil tersenyum.

Untuk diketahui proses awal pembangunan spot foto ini yang lokasinya tak jauh dari kampung inggris tersebut dilakukan bang Gush Sendiri. Karena menurutnya untuk mambuat material yang digunakan untuk membuat spot foto yaitu berupa bambu di ambil dari rumpun-rumpun bambu yang ada di Desa Waturaka. Dengan dibangunnya spot foto tersebut, menurutnya tak lain adalah untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin mempertahankan desa mereka sebagai desa wisata terbaik kategori Wisata Alam.

Terlebih lagi, dalam beberapa bulan terakhir area dipersawahan ini dijadikan tempat anak anak muda untuk nongkrong disore hari sembari menunggu matahari terbenam mereka menikmati area persawahan yang asri ini. Lebih jauh Gush mengatakan untuk sementara tiket masuk nya dikenakan tarif Rp 5.000,-/orang dan bisa foto sepuasnya dari semua arah yang berbeda terserah mau foto sampai memori penuh juga silahkan katanya menutup wawancara dengan wartawan betabutu news.

Prestasi yang dicapai desa ekowisata Waturaka menuai pujian dari Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat  saat acara Pati Ka di danau Kelimutu Rabu, 14 Agustus 2019 yang silam. Viktor mengapresiasi warga desa ini yang berubah dari petani tradisional menjadi petani agrowisata sehingga mendapat pemasukan dari wisata. “Di Waturaka terjadi sebuah tranformasi budaya yang sangat luar biasa. Dari petani tradisional menjadi petani pariwisata,” pujinya.

Itu menjadi bukti keberhasilan wisata berbasis komunitas (community based tourism) meski awalnya Desa Waturaka hanya sebagai desa penyangga destinasi wisata Danau Kelimutu. “Desa ini menjadi salah satu pusat penelitian dalam transformasi budaya di dunia,” ungkapnya. Keberhasilan itu, lanjut Viktor, bisa menjadi pemicu desa lainnya di NTT. Dia mengharapkan warga mampu menyediakan makanan dan minuman khas bagi wisatawan harus berasal dari desa setempat, seperti teh daun kelor dan gula aren. “Kita akan kirim orang belajar di Waturaka, lalu kembali dan diterapkan. Belajar desa pariwisata hanya ke Waturaka,” tegasnya.(CENA)