Gregories Taneo Kecewa Dengan Ringannya Hukuman Para Pelaku Pengeroyokannya

Melalui penasehat hukumnya Gregories Taneo menyatakan kekecewaanya dengan ringannya tuntutan hukum dan putusan pengadilan terhadap para pelaku pengeroyokan terhadap dirinya yang terjadi pada Bulan September 2019 lampau.

Gregories Taneo Kecewa Dengan Ringannya Hukuman Para Pelaku Pengeroyokannya
Gregorius Taneo, korban penganiayaan yang terjadi pada tanggal 21 September 2019, saat di temui di kediamannya di Kefamenanu Baru-baru ini. (17/01/2020). Foto : Herry Sandy Umbu Deta
betabutu

Kefamenanu, Proses penegakkan hukum di Kabupaten Timor Tengah Utara masih menyisakan sejumlah Pekerjaan Rumah, pasalnya masih banyak kasus hukum yang sifat tebang pilih, atau yang sifatnya tumpul keatas dan tajam kebawah. Hal ini dirasakan dan diungkapkan oleh Gregorius Taneo (65 Tahun), seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil di Kota Kefamenanu. Kasus penganiayaan yang di derita olehnya yang terjadi di tahun 2019 silam baru di proses pada tahun 2020 akhir. Dan para pelaku hanya di tuntut dengan hukuman penjara 4 (empat) bulan dan diputuskan menjalani tahanan 2 (dua) bulan penjara.

Di dampingi penasehat hukumnya, Dyonisius Frediric Bruno Rosari Opat, SH., beliau menceritakan kronologis kasus penganiayaan pada hari Sabtu, 21 September 2019 sekitar Pukul 10:00 Wita didepan rumah keluarga atau rumah orang tuanya Alm. Antonius Leu, di Oelolok, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, seperti yang dituturkan oleh Gregorius Taneo bahwa kasus yang berawal dari perselisihan internal dalam keluarga. Menurutnya ada tanah kebun warisan dari Almarhum orangtuanya yang sudah turun temurun di kelolanya, di kebun tersebut di tanami pohon jati juga, pada suatu hari ketika beliau mengunjungi kebunnya, didapati bahwa pohon jati di kebunnya sudah di sensor (Ditebang dengan gergaji mesin, Red.) tanpa pemberitahuan, akhirnya beliau bertanya kepada adik perempuannya, "Kamu datang sensor itu kayu jati minta permisi sama siapa ?" di rumah ada Wilhemus Bani, kunyadu (Ipar Laki-laki) menjawab, "Kami sensor karena ada kesepakatan keluarga."

Karena tidak terima diperlakukan demikian apalagi posisi Gregorius Taneo sebagai anak sulung dalam keluarga, dalam ancamannya beliau berniat melaporkan ke Polisi, namun ditanggapi oleh adik dan iparnya silahkan mau lapor kemana saja. Akhirnya beliau pulang ke rumah di oelolok ganti pakaian karena baru dari kebun menggunakan celana pendek. Sementara ganti pakaian adik kandungnya nomor 10, Agustinus Taneo dan adik kandungnya nomor 11 Kletus Dominggus Taneo, SE. sudah berdiri didepan rumah. Ketika beliau keluar adiknya menendang motornya, sempat ia pergi meninggalkan mereka namun ia dilempar oleh Kletus untung tidak mengenainya, dengan maksud mau berbicara secara baik-baik dengan adik-adiknya ia kembali lagi ke rumah, namun baru sampai Kletus menarik Goris dikerah baju dan menendangnya hingga jatuh kedalam batas jalan atau selokan, kemudian adiknya Gusti turut menganiaya dengan menarik keluar dari selokan kemudian menendangnya seperti yang di lakukan oleh kletus.

Tidak hanya itu menurut Gories ia diseret dan ditarik oleh adik-adik, dan iparnya. Merasa tidak puas dengan perlakuan penganiayaan yang menimpanya, Gories Taneo melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Insana pada hari yang sama selepas kejadian tersebut. Laporan Polisi No. LP/75/IX/2019/Polsek Insana di terima oleh Bripka Syamsul Razak. Namun proses pemeriksaan saksi, korban dan tersangka begitu lama baru di proses pada pertengahan tahun 2020, dan sidang perdana baru dilaksanakan pada hari Selasa, 03 November 2020. Dan menurut pengakuan Gregorius Taneo, tuntutan di bacakan pada sidang ke-7 hari kamis, 17 Desember 2020, dan tuntutan Jaksa penuntut umum saat itu Kurungan penjara 4 Bulan, dan berdasarkan informasi dari penasihat hukum Dirno Opat, SH. dan Gregorius Taneo sendiri kepada wartawan Betabutu News hasil keputusan hakim di putuskan pelaku penganiayaan kasus ini Gusti Taneo dan Kletus Taneo di vonis menjalani kurungan penjara selama 2 (dua) bulan.

Untuk mengkonfirmasi hal ini wartawan Betabutu News menemui menemui Panitera Pengadilan Kefamenanu, Yesephus M. Lakapu, S.H. beliau menjelaskan bahwa keputusan perkara Nomor register : 93/Pid.B/2020/PN Kfm sudah dilakukan pada Jumat, 18 Desember 2020. dan saat itu yang bertindak sebagai hakim ketua Yefry Bimusu, S.H., dan menurut wawancara dengan wartawan kami dengan hakim ketua dalam perkara ini, bahwa sudah di putuskan pada tanggal 18 Desember 2020, karena terdakwa dan penuntut umum menyatakan pikir-pikir, dan sampai 7 (tujuh) hari kemudian jaksa dapat mengeksekusi jika tidak ada upaya hukum banding, soal kapan waktu dieksekusi itu silahkan tanyakan ke kejaksaan. Hakim Yefry menambahkan Keputusan kami hanya terkait Pasal 351 Ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Demi memperjelas tentang proses eksekusi kedua terdakwa penganiayaan terhadap Goris taneo kami menemui, Jaksa Penuntut umum Rezza F.A., S.H,. dan beliau menjelaskan bahwa kedua terdakwa sudah di eksekusi masuk dalam rutan pada Jumat, 15 Januari 2021, untuk menjalani hukuman 2 (dua) bulan penjara, soal ringannya tuntutan hukum jika melihat bahwa ini merupakan kasus pidana murni di mana para terdakwa hanya di tuntut selama 4 (empat) bulan penjara, apalagi dapat dibuktikan dengan adanya Visum Et Repertum Nomor : 186/VISUM/U/VI/2020, tanggal 21 September 2020, dari dokter pemeriksa yaitu : dr. Daniel Erikson Tambunan. Bahwa benar Gregorius Taneo, mengalami sejumlah luka memar dan lecet. Menanggapi soal tuntutan yang hanya 4 (empat) Bulan penjara Jaksa Rezza berpendapat bahwa kasusnya masih dalam lingkungan keluarga kandung, dan keterangan saksi Aloysius Seko dan saksi Maria Aplasi yang dalam fakta persidangan mengingkari Keterangan BAP saat di periksa oleh penyidik di Kepolisian. Sehingga keterangan saksi yang berkaitan dengan peristiwa dimaksud adalah berdasarkan pengakuan di persidangan yang tidak melihat langsung bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

Berdasarkan wawancara kami dengan penasihat hukum Gregorius Taneo sebagai pihak yang tidak puas dengan ringannya tuntutan hukum kepada Gusti Taneo dan Kletus Taneo, beliau menegaskan "Biar ini kasus terjadi dalam lingkup keluarga tetapi ini merupakan tindak pidana murni, dan memenuhi unsur Pasal 351 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) KUHP, untung korban dalam hal ini Pak Gories Taneo tidak menderita cacat atau bahkan meninggal dunia, harus dilihat dari unsur niat para pelaku juga, apalagi dalam berjalannya kasus penganiayaan ini di Kepolisian tidak ada niat dari para pelaku penganiayaan untuk berdamai dengan korban." Lanjutnya, Penasihat Hukum Korban Dirno Opat, SH., mengungkapkan bahwa tuntutan Jaksa dan keputusan hakim tidak memenuhi rasa keadilan, apalagi Pak Gories Taneo di keroyok oleh 2 (dua) Orang dewasa, bandingkan dengan kasus Egidius Nino yang juga disidangkan pada tahun 2020, pelaku dihukum dengan penjara kurungan selama 5 (lima) bulan penjara, dengan tindak penganiayaan yang menurut saya mirip dan jauh lebih ringan, tutupnya mengakhiri wawancara dengan wartawan Betabutu News. (HUD)