Akibat Abrasi Laut, Daratan Pantai SGB Bungsu Di Lewoleba Makin Tergerus

Jika Tidak Ada Perhatian Serius Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata, Luas Daratan Pantai SGB Bungsu di Lewoleba Makin Tergerus Beberapa Meter Setiap Tahun Akibat Ganasnya Abrasi Laut.

Akibat Abrasi Laut, Daratan Pantai SGB Bungsu Di Lewoleba Makin Tergerus
Kondisi Terkini Pantai SGB Bungsu, yang termakan abrasi laut, belum mendapat perhatian Pemerintah daerah Kabupaten Lembata Sampai saat ini, (18/11/2020), Foto : Stevend Lelangwayan
Akibat Abrasi Laut, Daratan Pantai SGB Bungsu Di Lewoleba Makin Tergerus
betabutu

Lewoleba, Akibat sering diterjang ombak besar, wilayah daratan di pesisir kota lewoleba tepatnya di lokasi wisata pantai SGB Bungsu, Kelurahan lewoleba utara, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, semakin berkurang wilayah daratannya, hal ini sudah tergerus hingga mencapai kurang lebih 50 meter dalam beberapa tahun terakhir. Perlu diketahui bahwa Masyarakat kota lewoleba sering menjadikan pantai SGB Bungsu sebagai Pantai utama Untuk melepaskan kepenatan di akhir pekan dan dihari libur bersama keluarga.

Dari pantai ini kita bisa meliat dua gunung berapi yakni Ile Lewotolok dan Ile Boleng di Pulau Adonara. Namun hari demi hari Abrasi yang terus menerus merusak pesona dan keindahan Pantai SGB bungsu, abrasi pun terus menjadi-jadi banyak pohon kelapa yang semula menghiasi pantai tersebut sudah tumbang hilang satu persatu dihatam ganasnya gelobang laut. Namun kejadian tersebut di biarkan begitu saja oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata khususnya dinas atau badan yang terkait.

Abdul Gani Genape, salah seorang warga yang berdomisili di pantai itu, merasakan dampak langsung dari abrasi tersebut pada tahun 2018 yang lalu Rumah miliknya yang dibangun di pinggir Pantai SGB Bungsu Lewoleba, telah rusak dihantam abrasi. Dapur telah digerus masuk ke laut, terpisah dari rumah induk. Rumah itu rusak bersamaan dengan tumbangnya pohon-pohon kelapa yang tumbuh di pinggir pantai tersebut. Ini terjadi karena dalam beberapa tahun terakhir, abrasi di pantai itu sangat besar.

Banyaknya pohon kelapa yang tumbang itu, lanjut dia, menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Karena selama ini dirinya sangat bergantung pada pohon kelapa yang ada ini untuk menyambung hidup. "Kami sangat bergantung pada pohon kelapa yang ada. Kalau kelapa ini tumbang terus-menerus, maka nasib hidup kami akan tambah buruk. Padahal dari hari ke hari, kami terus bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan hidup kami," ujarnya.

Beberapa tahun lalu, lanjut dia, petugas dari kantor BPBD Lembata, turun ke tempat itu. Tapi setelah pulang, tidak ada hal baru yang dilakukan di tempat tersebut. Beberapa waktu kemudian, datang lagi petugas dari kantor yang sama ke tempat ini. Hasilnya pun tidak ada sama sekali.

Selama ini pegawai dari kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, sudah survei ulang-ulang lokasi abrasi yang ada di Pantai SGB Bungsu ini. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut sama sekali. Secara pribadi saya juga sudah tanyakan ulang-ulang hal ini tapi dijawab bersabar. Akhirnya sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kalau segera dibuatkan tanggul pengaman pantai di tempat ini.

Salah seorang pengunjung yang di jumpai Wartawan Betabutu News di Lokasi Pantai SGB Bungsu mengatakan kepada media ini bahwa pemerintah daerah Kabupaten Lembata saat ini begitu semangat 45 mempromosikan wisata di mana-mana, namun wisata pantai di depan pintu masuk jantung kota lewoleba atau di depan mata kita dibiarkan begitu saja. Ia mengharapkan pemerintah Daerah Kabupaten Lembata lewat Jajaran BPBD, Dinas PU, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, dan Dinas Pariwisata, perlu membangun sarana untuk memecah gelombang laut di pantai tersebut dan melakukan konservasi hutan mangrove atau hutan bakau agar dapat mengurangi abrasi. (STL)